Sumber
: Dok.Wahida
(Gambar
1. Gambar siswa sasaran sambil memegang tulisan KKN UNEJ, 03 Juli 2020)
Sebagai Civitas Akademika, kita tentunya
tidak asing dengan tiga pilar dasar yang berperan membangun pola pikir
mahasiswa. Ketiga hal tersebut tertuang dalam Tri Dharma Perguruan tinggi yang
isinya meliputi Pendidikan
dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian Kepada Masyarakat.
Memasuki bulan Juli 2020, Universitas Jember disibukan dengan salah satu
Kegiatan Rutin tahunan sebagai implementasi point pengabdian Masyarakat yakni
Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pelaksanaan kegiatan KKN tahun ini cukup menjadi sorotan
serta topik yang tidak henti-hentinya menjadi perbincangan dikalangan Mahasiswa
khususnya bagi mahasiswa angkatan 2017 yang menjalankan tugas KKN ditengah
pandemi Covid-19. Pasalnya berbagai
upaya pemerintah serta masyarakat guna mematuhi protokol kesehatan
mengakibatkan pelaksanaan kegiatan KKN pada umumnya tidak dapat diterapkan
diperiode kali ini. Berbagai hal telah diupayakan oleh pihak kampus, mahasiswa
maupun pihak terkait lainya guna mempertahankan esensi pelaksanaan KKN meskipun
dalam segala kondisi. Maka dari itu diambilah kebijakan oleh Universitas Jember
untuk menjalankan KKN Back to village
2020.
Berdasarkan
kebijakan tersebut, penulis pun menunaikan kewajiban KKN di kampung halaman bertempat
di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. Penulis memutuskan
untuk melakukan kegiatan didesa sendiri karena dinilai desa ini memiliki
potensi yang amat besar dan masih perlu adanya pengembangan guna meningkatkan
potensi demi potensi yang ada didalamnya. Sektor pertanian, perdagangan, kesehatan,
sampai pendidikan dapat diperoleh dengan mudah diwilayah ini. Lokasi yang cukup strategis, tidak jauh dari
pusat pemerintahan serta perekonomian dan akses jalan yang mudah sangat
memungkinkan desa ini bisa berkembang menjadi desa adidaya yang dapat menjamin
kemakmuran warganya.
Terkait
berbagai sektor yang dapat dijadikan ikon dari desa ini, penulis memfokuskan
pada tema pendidikan. Tema pendidikan merupakan salah satu hal yang tidak dapat
dikesampingkan kepentinganya guna melahirkan generasi penerus desa bahkan
bangsa yang pastinya memberikan banyak kontribusi kedepanya. Didasari latar
belakang profesi masyarakat desa yang majemuk serta banyaknya anak usia antara
5-12 tahun didaerah desa RT 05 RW II Desa Yosomulyo menjadi dasar terkuat bagi penulis
untuk mengambil tema KKN Program Inovasi Pendukung Pembelajaran
Anak Sekolah Saat Covid-19. Permasalahan
dari segi profesi, menjadikan wali murid tidak dapat mendampingi proses belajar
anak dengan sistem daring pada semester lalu secara optimal. Kesibukan serta
tuntutan untuk tetap berpenghasilan menjadi salah satu alasan klasik yang umum
terjadi dimasyarakat. Untuk sekelas pegawai negeri maupun para karyawan yang
menjalankan WFH (Work From Home)
tentu bukan menjadi permasalahan. Namun untuk kalangan pedagang, buruh tani,
buruh harian serta beberapa profesi yang dituntut untuk tetap keluar rumah yang
notabenya masih gagap akan teknologi tentunya menimbulkan permasalahan. Terkait
kemajuan teknologi sebagai media pembelajaran yang harusnya dapat mengoptimalakan
proses belajar anak, hanya sedikit dimanfaatkan atau bahkan tidak sama sekali.
Belum lagi dengan sistem pembelajaran yang selama ini masih melulu hanya
dipandu untuk membaca materi A pada halaman sekian sampai sekian dan diakhiri
dengan pemberian tugas tentunya akan menjadi monoton, berefek pada kebosanan
siswa serta menimbulkan penumpukan tugas pastinya sangat kurang efektif jika
diterapkan pada anak rentan usia tersebut. Padahal, pada rentan usia
tersebutlah jiwa kreatifitas anak perlu diasah.
Populasi anak disekitar rumah
penulis terhitung sekitar belasan jumlahnya. Keseharianya hanya di isi bermain,
bersepeda, mandi disungai, beli snack dan cenderung malas untuk diajak belajar.
Kecuali bagi mereka-mereka yang mendapatkan perhatian lebih serta merasa takut
kepada orang tuanya jika tidak mau belajar.
“Alhamdulillah mbak, lak Unej
ngongkon samean ngewangi aku ngontrol belajare radit. Aku iki ora paham
Aplikasi, ngertine kur yutuban, durung maneh lak aku akeh garapan ngelondre,
arek e kon belajar angel. Wes ketimbang ngentekne lambe karo nggarain tukaran,
bene dolan ae wes.”
Indonesia : “Alhamdulillah jika unej
menyuruh mbak untuk membantu saya mengontrol belajarnya radit. Saya ini tidak
paham Aplikasi, tahunya hanya Youtube an, belum lagi kalau waktunya menegrjakan
Laundry, anaknya susah disuruh belajar. Daripada saya cerewet dan membuat
bertengkar, biar main saja sudah anaknya”
Ujar ibu Nita salah satu wali murid
yang saya datangi saat sosialisasi program kerja kepada para sasaran yang
dilakukan secara dor to dor, seraya
mencoba menyeka air matanya
Sumber
: Dok.Wahida
(Gambar
1. Gambar sosialisasi penggunaan WEB pembelajaran kepada salah satu wali murid,
04 Juli 2020)
Sungguh ironi yang sangat menyesakan
dada. Selain tidak memiliki kegiatan yang produktif, minimnya penerapan
protokol kesehatan yang seharusnya tidak boleh diabaikan selama diluar rumahpun
menjadikan permasalahan yang ada dilingkungan saya semakin komplek. Tidak hanya
bahaya kesehatan yang membidik anak anak tersebut, namun minimnya literasi,
tumpulnya kreatifitas pastinya menjadikan hal ini sebagai permasalahan jangka
panjang.
Berdasarkan
paparan diatas, penulis merasa beruntung dengan adanya program ini. KKN Back to village merupakan moment
yang tepat untuk mengabdikan diri dikampung halaman setelah sekian lama berguru
dan mencari pengalaman diluar daerah. tentunya program kerja ini tidak dapat
diselesaikaikan sendiri. Beberapa elemen dilibatkan untuk diajak berdiskusi,
mencari solusi serta merampungkan permasalahan ini. Berikut saya lampirkan
grand desain dari rule kegiatan saya selama 45 hari kedepan
Minggu
ke-1 agenda saya adalah bertemu dengan semua pihak yang terlibat untuk
pemaparan lebih terkait program yang akan saya usung. Pembuatan poster
permohonan donasi untuk perintisan perpustakaan mini “Omah Kawruh” serta
penyusunan beberapa silabus oleh mentor yang nantinya akan diunggah pada
Website. Minggu ke-2 melakukan pengumpulan donasi buku, setting dan dekorasi
perpustakaan mini, pembuatan dan publikasi SOP kunjungan perpustakaan mini
serta monitoring lanjutan dengan persiapan siswa memasuki awal tahun ajaran
baru yang akan berlangsung pada tanggal 13 Juli 2020. Minggu ke-3 Soft Opening
perpustakaan mini “Omah Kawruh” bersama pihak remaja Mushola Al-Mubarok. Donasi
buku masih terus berlangsung sampai waktu tertentu yang belum ditentukan. Pada
minggu ini sasaran sudah mulai memasuki minggu pertama pembelajaran, baik
secara onsite maupun daring, sehingga pendampingan pembelajaran bisa dimulai
pada minggu ini. Peran mentor pembelajaran kepada murid dapat berlangsung mulai
minggu ini. Minggu ke-4 kegiatan pada minggu ini dalam segi pembelajaran idem
dengan minggu ketiga. Tentunya dengan penyesuaian kondisi yang terjadi
dilapangan. Kunjungan perpustakan juga berjalan seperti yang direncanakan. Minggu
ke-5 pembelajaran dan kunjungan perpustakaan berjalan seperti 2 pekan
sebelumnya. Pada minggu ini mulai memfokuskan untuk melibatkan mentor Kriya
untuk mendampingi siswa dalam membuat berbagai hasta karya yang tentunya
mengandung nilai edukasi guna memunculkan kreatifitas serta memudahkan
pemahaman ilmu pengetahuan kepada anak-anak serta pemanfaatan barang bekas yang
menerapkan prinsip recycle dalam
pengolahan sampah anorganik. Pendampingan direncanakan tidak hanya satu kali,
bisa sampai dua atau tiga kali, baik secara onsite
maupun virtual. Minggu ke-6 proses
pendampingan pembelajaran dan kunjungan perpustakaan mini berjalan idem dengan
pekan sebelumnya. Proses pembuatan cindera mata untuk pihak yang terlibat,
serta persiapan hibah perpustakaan dengan pihak remaja mushola. Minggu ke-7
hibah perpustakaan mini untuk masyarakat sekitar, penyerahan cinderamata serta
permohonan undur diri dari peserta KKN kepada semua pihak yang terlibat
menandakan bahwasanya KKN Back to village
akan segera berakhir.
Besar
harapan penulis agar semua proker diatas dapat terlaksana dengan lancar. Proker
sewaktu waktu dapat berubah menyesuaikan dengan kondisi lapang yang ada.
Tentunya dengan dukungan dari semua pihak. Penulis sangat optimis keberadaan
KKN Back to Village ini akan
memberikan manfaat yang dapat dirasakan serta berkelanjutan bahkan setelah masa
KKN ini berakhir. (Wahida
Asquria/1701710101083/KKN 29/YOSOMULYO/DPL:LWB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar