Jumat, 28 Januari 2022

nama yang kau beri

    orang tua yang dikaruniai buah hati memiliki kewajiban untuk memberikan nama sebagai identitas pertama yang ia miliki ketika dilahirkan. adakalanya kewajiban itu diemban oleh keduanya (ayah, ibu) ada yang sepenuhnya mengamanahkan pada orang alim (orang yang mereka anggap berilmu) untuk menamai anaknya. karena pemberian nama adalah hal sakral yang pastinya bakal melekat seumur hidup pada si jabang bayi juga sebagai bentuk doa dan harapan besar orang tua kepada anaknya. dalam kasusku, ibukulah yang memegang andil penuh untuk namaku.
    WAHIDA ASQURIA, dua kalimat berbau kearab-arab an, yang terdengar manis hehe..
kalau bisa diibaratkan dengan hal yang bisa dilihat dengan mata, aku menyebutnya "eyecatching".
selama perjalanan hidupku, nama ini cukup memberikan personal branding tersendiri untuku. tak jarang orang yang kukenal tiba-tiba menanyakan arti dari namaku. mulai dari guru agamaku waktu duduk di bangku sekolah dasar bu supiyati, serta rekan asramaku dari saudi semasa mondok di jombang yang akrab kami kenal dengan nama MB. Mereka membahas dengan senyum renyah yang kuartikan sebagai bentuk ketertarikan mereka kepada namaku. itulah sekilas feedback yang kudapatkan dari orang disekitarku.
sama halnya dengan namaku, tentunya memiliki asal usul dan alasan kuat mengapa nama ini yang dipilih ibuku. hampir semua orang dimuka bumi ini pernah bertanya kepada orang tua nya tentang arti nama yang ia miliki, sekalipun tidak bertanya sepertinya orang tua kita tidak pernah lupa untuk memberitahukanya. kala itu aku masih kecil, kala bertanya apa arti namaku selalu ibu jawab "satu syukur", karena namaku wahida yang dalam bahasa arab berarti satu, aku sering dianggap anak sulung. bukaaan yaa, saya punya abang dan saya anak kedua. simpelnya kala itu ibuku berharap anaknya bisa selalu menjadi yang nomor satu dan menjadi kebanggaan keluarga, wkwkwk terdengar memaksa dan tidak mau dikalahkan, namun qudarullah, selama duduk di bangku SD saya cukup berprestasi, rekor sejak kelas 1 sampai kelas 6 baik semester genap maupun ganjil saya selalu mendapat peringkat satu. aaaahhh,,,, ibu saya hanya cocoklogi saja ternyata untuk memaknainya. alasan asli dari nama yang kusandang adalah berawal dari aku yang masih didalam kandungan usia 7 bulan. kala itu ibuku sudah memasuki fase berat dalam perjalanan rumah tangganya. bagaimana tidak, saat sedang hamil beliau mendengar vonis dari dokter apaku (panggilan bapaku) kecil kemungkinanya untuk dapat pulih. tidak ada orang yang akan benar-benar siap untuk kehilangan sosok yang ia cintai, sekalipun ibuku sudah diberi semacam notifikasi tentang kondisi kesehatan apaku saat itu, bahkan pada saat vonis dijatuhkan dokter sudah memprediksi apaku mampu bertahan 6 bulan kedepan sudah merupakan pencapaian yang luar biasa. aku tiak tau jelas apa yang saat itu ibuku rasakan, namun kecemasanya mampu kurasakan dari nama yang ia beri. ia mengkhawatirkan nasib kami setelah nanti sosok suami yang begitu ia kasihi harus meninggalkanya beserta anak-anaknya. oleh karena itu, beliau merasa cukup dengan satu anak ini lagi terlahir dari rahimnya yang tentunya amat ia syukuri. satu saja anak terakhir yang tuhan karuniakan padanya saat itu. aku baru mengetahui alasan itu kala usiaku sudah cukup mampu mencerna tentang kesusahan apa yang dahulu harus ibuku hadapi, rasa cemasnya, keputus asaanya yang salah satuya ia abadikan dalam namaku. apapun makna relevan dan alasan terkuat dari nama yang engkau berikan padaku, aku ingin berterimakasih ibu,, aku sangan menyukai dan bangga terlahir dengan nama itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

nama yang kau beri

     orang tua yang dikaruniai buah hati memiliki kewajiban untuk memberikan nama sebagai identitas pertama yang ia miliki ketika dilahirkan...