Rabu, 12 Februari 2014

adaptasi cerpen menjadi naskah drama

drama merupakan karangan yang berpijak pada 2 cabang kesenian,yakni seni sastra dan seni pentas.krena seni sastra ,drama ditulis dengan keindahan bahasa dan kata kata yang mempesona. karena seni pentas ,drama disuguhkan dengan penataan panggung yang lengkap dan memikat.
semua cerpen dapat dijadikan sebuah naskah drama.namun,adaptasi cerpen menjadi naskah drama tidak boleh dilakukan sembarangan.beberapa hal yang harus diketahui sebelum mengadaptasinya
berikut caontoh adaptasi naskah drama "PULAU MAYAT" dari cerpen yang berjudul sama




PULAU MAYAT

Mentari masih sangat enggan menampakan sinarnya
ombak terlihat menggulung gulung pelan
daun kelapa yang melambai lambai berirama
pada hari itu terlihat cerah namun tak seperti biasanya,beberapa hewanpun tampak bertingkah laku aneh. Marwan juga teringat pada percakapan antara istri dan ibunya saat terbangun semalam yang mengatakan bahwa burug burun yang terus berbunyi menandakan akan terjadinya peristiwa besar
Marwan                  : “ mengapa hewan-hewan bertingkah laku sangat aneh,apa yang sebenarnya akan terjadi?(ia bergumam saat mengamati tempat tinggalnya dai atas pohon kelapa)
Setelah mengambil beberapa buah kelapa dari pohonya,Marwan pun bersiap siap melaut
Istri                           : “hari ini janganlah kau melaut dulu,istirahatlah saja dirumah.sejak semalam aku memiliki firasat yang kurang enak.
Marwan                  : “tidak usah terlalu menghawatirkanku,mungkin itu hanya perasanmu saja.”
Istri                           : “ sepertinya ada yang tidak beres dengan hari ini,tinggal lah dirumah,kau masih bisa kembali melaut esok hari.”
Marwan                  : “ doakan saja suamimu ini,semoga selamat sampai tujuan.aku berangkat dulu,assalamualaikum
Istri                           : “ waalaikumsalam:”
Tak mempan hasutan sang istri untuk melawan suaminya melautmarwanpun tetap bersikeras pergi melaut bersama 2 temanya
Teman 1               : “apa kita menjala ikan disini saja?”
Teman 2               : “sebaiknya kita lebih menengah saja,siapa tau disana lebih banya ikannya.”
Marwan               : “tidak ada salahnya kita kesana,lagipula cuaca hari ini sangat cerah
(tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang begitu menggelegar)
Teman 2               : “apa hanya aku yang mendengar suar itu?”
Teman 1               : “healah orang tidak ada suara apa apa.”
Marwan               : “tapi akupun mendengar suara itu”
Teman 2               : “ kan tidak hanya aku yang mendengar” (terdiam sejenak)  “lihat didepan”
Mereka terheran heran melihat kejadian yang terjadi didepan mereka
Sebuah cekungan yang kini menjadi pemandangan didepan mata mereka.
Marwan               : “cepat putar balik kemudinya”
Teman 1               : “tidak bisa,pusaran itu terlalu kuat menarik kita”
Tiba-tiba perahu motor yang mereka tumpangi seakan-akan tersendat karena kuatnya tarikan pusaran itu.
Teman 2               : “sial,mesinya mati.pegangan yang kuat!!”
Pekikan teman Marwan kian menambah kepanikan diantara mereka ,kini tiada daya lagi bagi mereka untuk melakukan sesuatu. Meraka hanya bisa berpegangan sambil berdoa,berharap keberuntungan masih berpihak pada mereka.tanpa melihat apa yang sedang terjadi,mereka tiba-tiba merasakan sebuah guncangan yang cukup kuat,taklama setelah itu perahu yang mereka tumpangi terhempas jauh keatas ,mereka bertiga bingung . karena cekungan curam mematikan yang mereka lihat tadi kini tak terlihat lagi
Teman 1               : “astaghfirullah…..ada apa ini??”
Marwan               : “sebaiknya kita kembali saja ke pulau”
Marwan mengajak 2 temanya untuk mengakhiri pergelutan di laut hari itu. Meski dengan perasaan kalut bercampur takut,mereka memutuskan untuk pulang saja tanpa membawa hasil laut seekor ikanpun. Saat perahu yang mereka tumpangi mulai mendekati pulau,mereka bertiga sangat terkejut  saat melihat apa yang terjadi pada pulau Nias,bak perahu pecah yang tak hilang tenggelam ke dasar laut. Ia langsung teringat perkataan ibunya semalam ,teringat pula akn peristiwa aneh tadi pagi, sebenarnya tuhan telah memberi pertanda pertanda. Ssunami menghantam pulau Nias.
Teman 1               : “allahuakbar” (dengan nada yang keras dan bergetar)
Teman 2               : “ya allah,selamatkan keluarga hamba”
Mereka bertiga bergegas lari dan menuju rumah masing-masing. Alangkah terkejutnya Marwan ,ketika melihat ibu,istrinya tergeletak takbernyawa dibawah runtuhan puing puing rumah mereka. Mereka bertiga telah menjadi keganasan ombak NIas hari itu
Marwan               : “ ya allah,ampunilah dosaku lebih baik kau ambil saja aku daripada kau harus    mengambil orang orang yang kucintai dalam hidupku,mereka begitu berarti bagiku,(sambil menatap ketiga mayat keluarganya. (Marwan menangis terisak isak tiada henti)
Dengan peluh yang mengucur membasahi tubuh dan derai tangis memilukan yang kian menambah suasana menjadi mencekam. Warga pun bergotongroyong menguburkan mayat-mayat korban sunami hari itu
Keuchik                                : “ syukurlah tak banyak warga kita yang menjadi korban pada peristiwa kali ini,mungkin sirine tadi cuukup memberi peringatan bagi warga untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi(dengan senyum khasnya,lelaki paruh baya itu sedikit berusaha menghibur warganya)
Lantas keuchik mendekati Marwan yang terlihat sangat sedih
Keuchik                : “yang sabar ya Marwan,ikhlaskan apa yang sudah terjadi tuhanpun pasti merencanakan hal terbaik dibalik ini semua , jangan saja kau tangisi kepergian mereka,namun doakan semoga arwah keluargamu diterima disisiNYA
Marwan               : “ terimakasih kik,saya merasa bersalah,jika tadi sanya mendengar nasehat istri saya untuk tidak melaut hari ini,mungkin kejadianya tidak akan seperti ini setidaknya jika saya mati,saya akan mati bersama mereka. Dan jika saya masih hidup,saya juga akan hidup bersama mereka.tidak seperti ini saya tinggal sendiri,tanpa ada pandangan apa yang harus saya lakukan sekarang dan selanjutnya kik”
Keuchik                : “sudahlah yakini tuhan menyayangimu,dan ia merencanakan yang terbaik untuk kita dan semua.
Sambil mereka berbincang bincang,keuchik terus berusaha untung menenangkan hati Marwan ,meski sebenarnya keuchik pula tau,seberapa berat cobaan yang sedang menimpa pemuda itu. Tak henti-hentinya Marwan meratapi nasibnya,ia terdiam diatas bukit sambil melihat pemandangan yang ada didepan matanya,yang kian menambah sesak didada,apalagi jika teringat ia telah kehilangan keluarga tercintanya,pandangan menerawang jauh kedepan,namun taka da yang menjadi focus dipikiranya,semua campur aduk. Tiba-tiba Marwan dikejutkan oleh beberapa mayat yang menepi kebibir pantai. Bergegas Marwan pun segera berlari menuruni bukit dan menuju pantai
Marwan               : “ada mayat,,adaa mayaaat”
Teriakan Marwan membuat orang orang mulai ramai menuju kepantai.
Warga 1                : “harus kita apakan mayat mayat ini???”
Warga 2                : “ lihat,disana juga banyak mayat!”
Marwan               : “apakah mereka semua benar benar sudah tidak bernyawa?”
Warga 3                : “ tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi diantara mereka”
Semua                  : “innalillahiwainailaihi rojiun”
Serentak semua warga bersama mengucap kata itu,seakan tiada habisnya mereka mengucap kata itu,ketika mereka menemukan mayat orang yang mereka pernah kenal.
Keuchik                   : “mari bapak bapak,sebaiknya segera kita urus mayat mayat ini,kita mandikan dan dikafani,kemudian kit kuburkan secara masal.
Lama mereka mengurus mayat-mayat yang terus berdatangan,warga semakin kewalahan mngurus mayat yang setiap waktunya makin banyak yang berdatangan.
Marwan                  : “kik,kita tidak bisa mengurus mereka lagi,jumlah mereka lebih banya dibanding jumlah kita.
Keuchik                   : “benar. Kita harus mengungsi,jika kita hanya tetap bertahan disini,keselamatan kita yang akan terancam. Mayat-mayat akan terus berdatangan,sedangkan kita  tak mampu lagi mengurus mereka,jika kita tidak mengungsi kita akan terkena penyakit.
Marwan                  : “lantas bagaimana dengan mayat mayat itu?”
Keuchik                   : “tidak ada jalan lain,lebih baik kita selamatkan diri kita dengan cara meninggalkan pulau ini,besok kita pergi ke pelabuhan,siapa tahu disana ada kapal yang berlabuh dipulau ini sehingga bisa membawa kita keluar dari pulau ini
Keesokan harinya wargapun mengikuti keuchik pergi ke pelabuhan sambil berharap ada kapal yang sandar. Sejak pagi mereka menunggu,namun taka da satupun kapal yang sandar.siang mereka masih menunggu,namun tetap taka da kapal yang sandar hingga menjelang sore hari
Warga                   : “ kik,berapa lama lagi kit harus menunggu?”
Keuchik                   : “entahlah,akupun tak dapat menghubungi tim SAR yang ada dikota,sepertinya sunami kemarin juga merusak jaringan komunikasi kita”
Ditengah perbincangan itu,terlihat sebuah kapal mendekat dan berlabuh di pulau itu,
Petugas                  : “maaf terjadi beberapa kendala saat akan menuju kesini,ombak besar masih terus terjadi,sehingga menghambat proses evakuasi
Keuchik                   : “Alhamdulillah,sudahlah,setidaknya anda sudah datang kemari. Bisakah anda membawa kami kelur dari pulau ini?
karna pulau ini tidak memungkinkan kondisiny untuk tetap kita huni
Petugas                  : “baik,sebaiknya semua bergegas naik,karena hari semakin larut.”
Marwan                  : “apakah dijamin aman? Saya masih trauma dengan kejadian kemarin”
Petugas                  : “tidakpapa,naiklah insya allah kita akan selamat sampai ke pulau seberang”
Perlahan semua bergegas naik keatas perahu.perahu didayung perlahan,semua orang kini taka da yang bercakap cakap. Semua hanyut didalam kessedihan . Marwan merenung sambil memandangi pulau tempat tinggalnya yang kian jauh ia tinggalkan sambil terombang ambing pelan dipermainkan gelomang dibawah remang cahaya sang rembulan

5 komentar:

nama yang kau beri

     orang tua yang dikaruniai buah hati memiliki kewajiban untuk memberikan nama sebagai identitas pertama yang ia miliki ketika dilahirkan...