semua cerpen dapat dijadikan sebuah naskah drama.namun,adaptasi cerpen menjadi naskah drama tidak boleh dilakukan sembarangan.beberapa hal yang harus diketahui sebelum mengadaptasinya
berikut caontoh adaptasi naskah drama "PULAU MAYAT" dari cerpen yang berjudul sama
PULAU MAYAT
Mentari masih sangat enggan menampakan sinarnya
ombak terlihat menggulung gulung pelan
daun kelapa yang melambai lambai berirama
pada hari itu terlihat cerah namun tak seperti
biasanya,beberapa hewanpun tampak bertingkah laku aneh. Marwan juga teringat
pada percakapan antara istri dan ibunya saat terbangun semalam yang mengatakan
bahwa burug burun yang terus berbunyi menandakan akan terjadinya peristiwa
besar
Marwan : “ mengapa hewan-hewan
bertingkah laku sangat aneh,apa yang sebenarnya akan terjadi?(ia bergumam saat
mengamati tempat tinggalnya dai atas pohon kelapa)
Setelah
mengambil beberapa buah kelapa dari pohonya,Marwan pun bersiap siap melaut
Istri : “hari ini janganlah
kau melaut dulu,istirahatlah saja dirumah.sejak semalam aku memiliki firasat
yang kurang enak.
Marwan : “tidak usah terlalu
menghawatirkanku,mungkin itu hanya perasanmu saja.”
Istri : “ sepertinya ada
yang tidak beres dengan hari ini,tinggal lah dirumah,kau masih bisa kembali
melaut esok hari.”
Marwan : “ doakan saja suamimu
ini,semoga selamat sampai tujuan.aku berangkat dulu,assalamualaikum
Istri : “ waalaikumsalam:”
Tak mempan hasutan sang istri untuk melawan suaminya
melautmarwanpun tetap bersikeras pergi melaut bersama 2 temanya
Teman 1 :
“apa kita menjala ikan disini saja?”
Teman 2 :
“sebaiknya kita lebih menengah saja,siapa tau disana lebih banya ikannya.”
Marwan :
“tidak ada salahnya kita kesana,lagipula cuaca hari ini sangat cerah
(tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang begitu menggelegar)
Teman 2 :
“apa hanya aku yang mendengar suar itu?”
Teman 1 :
“healah orang tidak ada suara apa apa.”
Marwan :
“tapi akupun mendengar suara itu”
Teman 2 :
“ kan tidak hanya aku yang mendengar” (terdiam sejenak) “lihat didepan”
Mereka terheran heran melihat kejadian yang terjadi didepan
mereka
Sebuah cekungan yang kini menjadi pemandangan didepan mata
mereka.
Marwan :
“cepat putar balik kemudinya”
Teman 1 :
“tidak bisa,pusaran itu terlalu kuat menarik kita”
Tiba-tiba perahu motor yang mereka tumpangi seakan-akan
tersendat karena kuatnya tarikan pusaran itu.
Teman 2 :
“sial,mesinya mati.pegangan yang kuat!!”
Pekikan teman Marwan kian menambah kepanikan diantara mereka
,kini tiada daya lagi bagi mereka untuk melakukan sesuatu. Meraka hanya bisa
berpegangan sambil berdoa,berharap keberuntungan masih berpihak pada
mereka.tanpa melihat apa yang sedang terjadi,mereka tiba-tiba merasakan sebuah
guncangan yang cukup kuat,taklama setelah itu perahu yang mereka tumpangi
terhempas jauh keatas ,mereka bertiga bingung . karena cekungan curam mematikan
yang mereka lihat tadi kini tak terlihat lagi
Teman 1 :
“astaghfirullah…..ada apa ini??”
Marwan :
“sebaiknya kita kembali saja ke pulau”
Marwan mengajak 2 temanya untuk mengakhiri pergelutan di
laut hari itu. Meski dengan perasaan kalut bercampur takut,mereka memutuskan
untuk pulang saja tanpa membawa hasil laut seekor ikanpun. Saat perahu yang
mereka tumpangi mulai mendekati pulau,mereka bertiga sangat terkejut saat melihat apa yang terjadi pada pulau
Nias,bak perahu pecah yang tak hilang tenggelam ke dasar laut. Ia langsung
teringat perkataan ibunya semalam ,teringat pula akn peristiwa aneh tadi pagi,
sebenarnya tuhan telah memberi pertanda pertanda. Ssunami menghantam pulau
Nias.
Teman 1 :
“allahuakbar” (dengan nada yang keras dan bergetar)
Teman 2 :
“ya allah,selamatkan keluarga hamba”
Mereka bertiga bergegas lari dan menuju rumah masing-masing.
Alangkah terkejutnya Marwan ,ketika melihat ibu,istrinya tergeletak takbernyawa
dibawah runtuhan puing puing rumah mereka. Mereka bertiga telah menjadi
keganasan ombak NIas hari itu
Marwan : “ ya allah,ampunilah dosaku
lebih baik kau ambil saja aku daripada kau harus mengambil orang orang yang kucintai dalam
hidupku,mereka begitu berarti bagiku,(sambil menatap ketiga mayat keluarganya.
(Marwan menangis terisak isak tiada henti)
Dengan peluh yang mengucur membasahi tubuh dan derai tangis
memilukan yang kian menambah suasana menjadi mencekam. Warga pun
bergotongroyong menguburkan mayat-mayat korban sunami hari itu
Keuchik : “ syukurlah
tak banyak warga kita yang menjadi korban pada peristiwa kali ini,mungkin
sirine tadi cuukup memberi peringatan bagi warga untuk segera mengungsi ke
tempat yang lebih tinggi(dengan senyum khasnya,lelaki paruh baya itu sedikit
berusaha menghibur warganya)
Lantas
keuchik mendekati Marwan yang terlihat sangat sedih
Keuchik : “yang sabar ya
Marwan,ikhlaskan apa yang sudah terjadi tuhanpun pasti merencanakan hal terbaik
dibalik ini semua , jangan saja kau tangisi kepergian mereka,namun doakan
semoga arwah keluargamu diterima disisiNYA
Marwan : “ terimakasih kik,saya merasa
bersalah,jika tadi sanya mendengar nasehat istri saya untuk tidak melaut hari
ini,mungkin kejadianya tidak akan seperti ini setidaknya jika saya mati,saya
akan mati bersama mereka. Dan jika saya masih hidup,saya juga akan hidup
bersama mereka.tidak seperti ini saya tinggal sendiri,tanpa ada pandangan apa
yang harus saya lakukan sekarang dan selanjutnya kik”
Keuchik : “sudahlah yakini tuhan
menyayangimu,dan ia merencanakan yang terbaik untuk kita dan semua.
Sambil mereka berbincang bincang,keuchik terus berusaha
untung menenangkan hati Marwan ,meski sebenarnya keuchik pula tau,seberapa
berat cobaan yang sedang menimpa pemuda itu. Tak henti-hentinya Marwan meratapi
nasibnya,ia terdiam diatas bukit sambil melihat pemandangan yang ada didepan
matanya,yang kian menambah sesak didada,apalagi jika teringat ia telah
kehilangan keluarga tercintanya,pandangan menerawang jauh kedepan,namun taka da
yang menjadi focus dipikiranya,semua campur aduk. Tiba-tiba Marwan dikejutkan
oleh beberapa mayat yang menepi kebibir pantai. Bergegas Marwan pun segera
berlari menuruni bukit dan menuju pantai
Marwan :
“ada mayat,,adaa mayaaat”
Teriakan Marwan membuat orang orang mulai ramai menuju
kepantai.
Warga 1 :
“harus kita apakan mayat mayat ini???”
Warga 2 :
“ lihat,disana juga banyak mayat!”
Marwan :
“apakah mereka semua benar benar sudah tidak bernyawa?”
Warga 3 :
“ tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi diantara mereka”
Semua :
“innalillahiwainailaihi rojiun”
Serentak semua warga bersama mengucap kata itu,seakan tiada
habisnya mereka mengucap kata itu,ketika mereka menemukan mayat orang yang
mereka pernah kenal.
Keuchik : “mari bapak bapak,sebaiknya
segera kita urus mayat mayat ini,kita mandikan dan dikafani,kemudian kit
kuburkan secara masal.
Lama mereka mengurus mayat-mayat yang terus
berdatangan,warga semakin kewalahan mngurus mayat yang setiap waktunya makin
banyak yang berdatangan.
Marwan : “kik,kita tidak bisa
mengurus mereka lagi,jumlah mereka lebih banya dibanding jumlah kita.
Keuchik : “benar. Kita harus
mengungsi,jika kita hanya tetap bertahan disini,keselamatan kita yang akan
terancam. Mayat-mayat akan terus berdatangan,sedangkan kita tak mampu lagi mengurus mereka,jika kita
tidak mengungsi kita akan terkena penyakit.
Marwan : “lantas bagaimana dengan
mayat mayat itu?”
Keuchik : “tidak ada jalan lain,lebih
baik kita selamatkan diri kita dengan cara meninggalkan pulau ini,besok kita
pergi ke pelabuhan,siapa tahu disana ada kapal yang berlabuh dipulau ini
sehingga bisa membawa kita keluar dari pulau ini
Keesokan harinya wargapun mengikuti keuchik pergi ke
pelabuhan sambil berharap ada kapal yang sandar. Sejak pagi mereka
menunggu,namun taka da satupun kapal yang sandar.siang mereka masih
menunggu,namun tetap taka da kapal yang sandar hingga menjelang sore hari
Warga :
“ kik,berapa lama lagi kit harus menunggu?”
Keuchik : “entahlah,akupun tak dapat
menghubungi tim SAR yang ada dikota,sepertinya sunami kemarin juga merusak
jaringan komunikasi kita”
Ditengah
perbincangan itu,terlihat sebuah kapal mendekat dan berlabuh di pulau itu,
Petugas : “maaf terjadi beberapa
kendala saat akan menuju kesini,ombak besar masih terus terjadi,sehingga
menghambat proses evakuasi
Keuchik :
“Alhamdulillah,sudahlah,setidaknya anda sudah datang kemari. Bisakah anda
membawa kami kelur dari pulau ini?
karna pulau ini tidak memungkinkan kondisiny untuk tetap kita huni
karna pulau ini tidak memungkinkan kondisiny untuk tetap kita huni
Petugas : “baik,sebaiknya semua
bergegas naik,karena hari semakin larut.”
Marwan : “apakah dijamin aman? Saya
masih trauma dengan kejadian kemarin”
Petugas : “tidakpapa,naiklah insya
allah kita akan selamat sampai ke pulau seberang”
Perlahan semua bergegas naik keatas perahu.perahu didayung
perlahan,semua orang kini taka da yang bercakap cakap. Semua hanyut didalam
kessedihan . Marwan merenung sambil memandangi pulau tempat tinggalnya yang
kian jauh ia tinggalkan sambil terombang ambing pelan dipermainkan gelomang
dibawah remang cahaya sang rembulan

widiiih blognya udah ada musiknyaaa :D
BalasHapusga ada danau toba suatu senja?
BalasHapustidak,itu hanya sekedar tugas,iseng di posting,mungkin dapt bermanfaat
BalasHapusHalluuuuu, aku boleh minta cerpennya kah?
BalasHapuskaryasiapa itu
BalasHapus